Terang Kampongku, Inovasi DPMD Kukar Wujudkan Keadilan Energi di Pedalaman
DUTANARASI.COM – Kehadiran cahaya di malam hari kini menjadi simbol kemajuan bagi desa-desa terpencil di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Melalui program Terang Kampongku, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kukar terus berupaya memastikan seluruh masyarakat, termasuk di pelosok, dapat menikmati penerangan listrik.
Kepala DPMD Kukar, Arianto, menjelaskan bahwa secara administratif program tersebut telah mencapai 100 persen sesuai target RPJMD 2021–2026. Namun, ia tak menutup mata terhadap kondisi di lapangan.
“Secara data semua desa dan kelurahan sudah terlayani, tetapi kami masih menemukan beberapa dusun dan RT yang belum sepenuhnya terang. Karena itu, kami terus memperluas jangkauan dan menambah LPJU di wilayah yang masih gelap,” jelasnya, Selasa (28/10/2025).
Sebagai langkah konkret, PLN Regional Kalimantan Timur telah menindaklanjuti permohonan pembangunan jaringan listrik di dua desa di Kecamatan Kenohan, yakni Lamin Pulut dan Lamin Telihan.
“PLN sudah bersurat ke Pak Bupati untuk membawa material jaringan listrik. Dalam dua minggu ke depan material akan dikirim, dan ditargetkan akhir 2025 atau awal 2026 dua desa itu sudah menyala,” ungkap Arianto.
Kendala utama pemerataan listrik di Kukar, kata Arianto, terletak pada kondisi geografis yang menantang. Banyak wilayah terpisah oleh perairan, bukit, atau hutan.
“Jaringan PLN konvensional tidak bisa menjangkau semua titik karena harus tersambung ke sistem utama. Maka kami hadir dengan solusi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk wilayah yang tidak bisa dijangkau jaringan PLN,” tuturnya.
Program PLTS ini menjadi bukti nyata inovasi pemerintah daerah. Meski kapasitasnya terbatas, manfaatnya sangat dirasakan masyarakat.
“Warga bisa menyalakan lampu dari sore hingga subuh, bahkan mengisi ponsel. Ini bukan hanya tentang penerangan, tapi perubahan kualitas hidup,” ujarnya.
Arianto menambahkan, pembangunan PLTS membutuhkan investasi besar di awal, sekitar Rp6 hingga Rp12 miliar per titik.
“Biaya itu digunakan untuk membuat panggung di daerah air, tempat penyimpanan baterai, dan panel surya. Setelah itu, hanya butuh perawatan rutin. Kami dorong desa menyiapkan petugas dan partisipasi warga lewat iuran kecil agar sistem tetap berjalan,” jelasnya.
Sejak 2022, 17 titik PLTS telah dibangun di wilayah-wilayah pedalaman seperti Tunjungan, Liang Buaya, Kupang Baru, Enggelam, hingga Dusun Tanjung Lirung Desa Marawis. Arianto menegaskan bahwa program ini bukan semata pembangunan fisik, melainkan bentuk keadilan sosial.
“Kalau warga kota bisa menikmati listrik 24 jam, maka masyarakat pedalaman juga berhak merasakan kenyamanan yang sama,” tegasnya.
Dengan semangat ini, DPMD Kukar terus membuktikan bahwa pemerataan energi bukan sekadar wacana, melainkan cahaya nyata yang kini menerangi kehidupan masyarakat desa. (Adv/kh)


