Menyumpit, Tradisi yang Tetap Hidup di Tengah Gempuran Digital

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Advertorial


SANGATTA Acara ini menjadi pengingat bahwa budaya tak mati selama ada yang merawatnya. Di tengah gempuran digitalisasi, warisan seperti menyumpit justru mendapat tempat baru sebagai pembentuk karakter, penguat komunitas, dan pengantar nilai-nilai luhur. Gempuran budaya digital tidak menyurutkan usaha Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dalam merawat budaya warisan leluhur.

Di halaman Kantor Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kutim, beberapa waktu lalu berlangsung acara Silaturahmi dan Latihan Bersama Penyumpit se-Kalimantan. Kegiatan tersebut dihadiri oleh 202 penyumpit yang datang dari 22 komunitas di seluruh Kalimantan. Nikodimus, selaku ketua panitia sekaligus Ketua Komunitas Olahraga Tradisional Sumpit Burui Put Sangatta, menyatakan bahwa menyumpit lebih dari sekadar ketangkasan.

Ia adalah warisan budaya yang menuntut ketenangan, fokus, dan kehati-hatian nilai-nilai yang relevan dalam kehidupan sehari-hari. Acara dibuka secara simbolis oleh Kepala Dispora Kutim, Basuki Isnawan, yang mewakili Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman. Kegiatan diawali dengan pelepasan sumpit perdana oleh Basuki sendiri.

Dengan sikap tenang dan arah bidikan yang mantap, ia menandai dimulainya kegiatan yang penuh makna tersebut. Dalam sambutannya, Basuki menekankan pentingnya olahraga tradisional sebagai penyeimbang zaman, terutama bagi generasi muda. Menurutnya, menyumpit bukan hanya bagian dari tradisi, melainkan juga sarana preventif terhadap berbagai penyimpangan sosial.

Kegiatan seperti ini perlu ditekankan pada pelajar agar terhindar dari kegiatan negatif seperti narkoba, balap liar, dan judi online, tambahnya. Tak ada hadiah besar yang ditawarkan, namun yang dibawa pulang oleh para peserta jauh lebih berharga, yaitu rasa memiliki terhadap budaya sendiri. Anak-anak muda berdiri berdampingan dengan penyumpit senior, belajar mengatur napas, memilih sudut tembak, dan memahami bahwa keheningan bisa menjadi kekuatan.

Di sela kegiatan, peserta tampak antusias berbincang dan bertukar teknik. Beberapa komunitas menunjukkan inovasi mereka, seperti penggunaan bahan lokal untuk sumpit yang lebih ringan hingga desain sasaran latihan yang lebih edukatif. Acara ini pun menjadi ajang pertukaran pengetahuan dan memperkaya cara pandang antarpenyumpit dari berbagai daerah.

(ADV/ProkopimKutim/DN)

Iklan dutanarasi.com

Tags:

Advertorial