SANGATTA – Permasalahan terkait program Makan Bergizi Gratis di daerah lain menjadi pembelajaran yang tidak boleh terjadi di Sentra Penyediaan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dayung. Untuk itu, kualitas gizi dan makanan menjadi prioritas yang tidak boleh ditawar. Mulai dari kebersihan dapur, pemilihan bahan makanan, hingga pengiriman ke siswa diperhitungkan dengan cermat.
Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah meresmikan beroperasinya SPPG Dayung tersebut dengan didampingi Wakil Bupati Mahyunadi, Ketua DPRD Jimmi, serta Forum Koordinasi Pimpinan Daerah. Bupati Ardiansyah dalam arahannya menegaskan bahwa MBG bukan sekadar memenuhi kebutuhan perut anak-anak, tetapi juga berkaitan dengan menyiapkan masa depan.
“Kami ingin anak-anak Kutim tumbuh sehat, ceria, dan berprestasi. Karena itu, kualitas dan konsistensi gizi harus benar-benar dijaga,” ujarnya.
Kepala SPPG Dayung, Gebryani Rante Lembang, menegaskan komitmen pihaknya dalam menjaga kualitas. Ia menyatakan komitmen tersebut adalah hasil dari persoalan-persoalan MBG di sejumlah daerah lain. Seperti yang kita ketahui, di beberapa daerah program serupa pernah menghadapi masalah, mulai dari makanan basi hingga menyebabkan keracunan siswa.
“Kami melakukan quality control ketat, mulai dari dapur yang bersih, peralatan yang higienis, hingga makanan sampai ke meja siswa. Jika ditemukan makanan basi atau sampai menyebabkan keracunan, akan ada sanksi tegas hingga pencabutan izin. Kami tidak memberi ruang bagi kelalaian karena ini menyangkut kesehatan anak-anak kita,” tegasnya.
Persoalan di daerah lain juga menjadi perhatian pemerintah yang bersinergi dengan pengelola SPPG memastikan hal yang sama tidak akan terjadi.
Pengawasan gizi yang konsisten, menu yang bervariasi, dan dapur yang selalu bersih memungkinkan SPPG Dayung menjadi contoh nyata bagaimana pemerintah, sekolah, dan masyarakat berkolaborasi menjaga program berjalan dan bermanfaat bagi penerimanya. Sehingga cita-cita untuk menciptakan generasi berkualitas untuk masa depan Kutim dapat terjaga. (ADV/ProkopimKutim/DN)


