Dutanarasi, Kutai Timur – Minat investor terhadap Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy sebenarnya cukup tinggi, namun realisasinya masih menjadi tantangan besar bagi pemerintah daerah.
Berdasarkan data terbaru yang dipaparkan oleh Kepala DPMPTSP Kutim, Darsafani, terdapat belasan perusahaan yang menyatakan minat, namun hanya sedikit yang menunjukkan komitmen serius hingga tahap operasional.
Dalam laporan evaluasi, tercatat baru PT Palma Serasih dan PT MBTK sendiri yang telah aktif beroperasi di kawasan tersebut.
Sementara itu, beberapa perusahaan lain masih tertahan di tahap Nota Kesepahaman (MoU) atau baru sekadar melakukan kunjungan lapangan. Darsafani menyayangkan banyaknya calon investor yang “hilang kabar” setelah meninjau lokasi tanpa ada tindak lanjut yang konkret.
”Dari berapa perusahaan ya yang sudah melakukan kunjungan ke KEK ini kan ada lima, tapi sampai sekarang ini belum ada investasinya,” ungkap Darsafani saat membedah data kunjungan investor.
Fenomena ini menjadi bahan evaluasi mendalam bagi tim administrator KEK Maloy. Menurut Darsafani, promosi seharusnya tidak hanya dilakukan oleh pemerintah daerah melalui DPMPTSP, melainkan menjadi tugas utama PT MBTK sebagai BUPP.
Pengelola kawasan dituntut untuk aktif mengikuti ajang business matching dan menjalin komunikasi intensif dengan para pengusaha potensial secara mandiri.
Selama ini, banyak investor datang setelah mendapatkan informasi secara sporadis, namun mereka tidak mendapatkan pendampingan yang maksimal hingga tahap investasi nyata.
Darsafani menekankan pentingnya profesionalitas pengelola dalam melayani setiap calon investor agar mereka merasa yakin untuk menanamkan modalnya di Kutai Timur. Koordinasi yang lemah antara administrator dan pengelola seringkali membuat peluang investasi terbuang percuma.
”Untuk promosi itu harusnya dilakukan oleh PT MBTK sendiri, setiap ada business matching itu dia harus ikut mendaftar di situ, jangan berharap dari administrator atau pemerintah daerah,” tuturnya memberi saran kepada pihak pengelola.
Meskipun demikian, ada secercah harapan dari PT Daya Puspita Sinergi yang berencana membangun pabrik minyak goreng dalam skala besar.
Perusahaan ini diharapkan menjadi lokomotif yang menarik gerbong investasi lainnya ke Maloy. Fokus pemerintah saat ini adalah memastikan hambatan seperti ketersediaan bahan baku dan administrasi lahan segera tuntas agar investor yang sudah berkomitmen tidak menarik diri.
Darsafani berharap ke depan KEK Maloy dapat berfungsi sesuai tujuannya sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru di Kalimantan Timur.
Diperlukan kerja keras dan kolaborasi dari semua lini, mulai dari penyelesaian sertifikat lahan hingga strategi promosi yang lebih agresif ke kancah internasional. Keberhasilan Maloy akan menjadi tolak ukur kesuksesan investasi di Kutai Timur secara keseluruhan.
”Yang datang-datang itu kan orang-orang mungkin tidak tahu dapat informasi dari mana mereka datang ke KEK semua, tapi setelah datang menengok dan tanya jawab, habis itu tidak ada lagi beritanya,” tutupnya. (Adv)


