SANGATTA – Sekolah lansia dan percepatan penurunan stunting menjadi dua program yang dijalankan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutai Timur (Kutim) dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Kedua program tersebut menitikberatkan pada pemberdayaan kelompok usia 40 tahun ke atas dan penurunan keluarga berisiko stunting.
Junaidi menjelaskan bahwa program Sekolah Lansia menjadi jawaban bagi kelompok masyarakat berusia 40 tahun ke atas, yang dalam konteks BKKBN telah dikategorikan sebagai lansia. Program ini dimaksudkan untuk membantu para lansia merasa bangga dan bahagia di usia mereka.
Program Sekolah Lansia yang berlangsung selama setahun ini diisi dengan berbagai kegiatan seperti senam, kesenian, dan pelatihan keterampilan, yang diakhiri dengan proses wisuda. Kegiatan yang dijalani dapat menghindarkan mereka dari stres akibat ketiadaan aktivitas.
Sementara itu, program percepatan penurunan stunting menggarap upaya pencegahan dari hulu. Sesuai dengan Peraturan Bupati, kasus keluarga berisiko stunting ditargetkan menurun dari 19.000 menjadi 11.000. Saat ini angka prevalensi stunting Kutim berada di angka 26 persen, dan DPPKB menargetkan penurunan hingga 24 persen atau bahkan lebih.
Dua kecamatan, yaitu Sangatta Utara dan Bengalon, yang diidentifikasi sebagai penyumbang terbesar angka keluarga berisiko stunting menjadi fokus penanganan. Selain persoalan gizi dan pernikahan dini, Junaidi menyebut jarak kelahiran anak yang terlalu dekat sering kali menjadi pemicu risiko tersebut.
Sebagai salah satu langkah pencegahan, pihaknya mendorong edukasi kepada masyarakat melalui tim pendamping keluarga agar beralih dari penggunaan KB tradisional ke KB modern. Selain itu dilakukan kolaborasi dengan program pengadaan 1.000 Rumah Layak Huni (RLH) untuk keluarga berisiko stunting. Tujuannya untuk memberikan sanitasi dan sirkulasi udara yang baik. DPPKB berupaya memastikan keluarga yang berisiko stunting masuk dalam program pembangunan RLH ini.
Kolaborasi juga dibangun dengan PDAM untuk ketersediaan air bersih bagi keluarga berisiko. Kemudian Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Distransnaker) turut diajak berkontribusi melalui program pembukaan 50.000 lowongan kerja. (ADV/ProkopimKutim/DN)


