Dutanarasi, Kutai Timur – Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Kutai Timur tengah mempersiapkan lompatan besar dalam manajemen lalu lintas di wilayahnya.
Melalui pemanfaatan teknologi Area Traffic Control System (ATCS), pihak perhubungan berupaya menekan angka pelanggaran dan mengurai kemacetan secara lebih efisien dan modern.
Teknologi yang sudah lazim digunakan di kota-kota besar ini nantinya akan memantau setiap pergerakan kendaraan di persimpangan jalan utama secara real-time.
Keunggulan utamanya terletak pada sistem sensor dan kamera canggih yang mampu mengidentifikasi detail kendaraan, termasuk nomor pelat, bahkan dari jarak yang cukup jauh.
Kasi Lalu Lintas Dishub Kutai Timur, Zulkarnain, menjelaskan bahwa sistem ini akan sangat membantu efektivitas kerja petugas di lapangan.
“Bisa kelihatan pelatnya kalau ATCS itu. Jadi kalau ada yang tidak pakai helm, petugas bisa langsung memberikan teguran atau tindakan melalui pantauan layar monitor,” ujarnya saat ditemui di ruang kontrol.
Implementasi ATCS ini juga didukung oleh koneksi Wi-Fi yang terintegrasi, memudahkan data visual dikirimkan langsung ke pusat komando.
Hal ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada penempatan personel secara fisik di setiap titik lampu merah yang seringkali menguras sumber daya manusia.
Zulkarnain menambahkan bahwa inspirasi ini datang dari keberhasilan kota-kota lain seperti Semarang dan Tangerang yang sudah lebih dulu mandiri secara sistem.
Di kota-kota tersebut, peran petugas di jalanan sudah sangat minim kecuali saat terjadi kondisi darurat atau gangguan teknis seperti pemadaman listrik.
Terkait investasi, Zulkarnain tidak menampik bahwa teknologi ini memerlukan anggaran yang cukup besar karena fungsinya yang vital.
“Mahal juga itu, miliaran juga, tapi sangat bagus fungsinya. Kita bisa melihat semua jalan, bisa di-zoom kalau ada kejadian seperti tabrakan untuk tahu siapa yang salah,” tuturnya menekankan nilai manfaat alat tersebut.
Ke depan, Dishub berencana mengintegrasikan sistem ini di beberapa titik strategis, termasuk area yang sering mengalami penumpukan kendaraan.
Rencananya, ada sekitar empat hingga lima titik tambahan yang akan dipasangi perangkat ATCS untuk menciptakan jaringan lalu lintas yang saling terkoneksi.
Evaluasi terus dilakukan agar sistem ini dapat berjalan optimal sesuai dengan karakteristik jalanan di Kutai Timur yang mulai padat.
“Yang penting ini saya kontrol sementara, nanti disatukan semua dengan ATCS agar manajemen lalu lintas kita benar-benar profesional dan terukur,” pungkas Zulkarnain. (Adv)


