JAKARTA – Kabupaten Kutai Timur (Kutim) berkomitmen kuat untuk mengembangkan batik dan tenun menjadi komoditas yang berdaya saing, baik di pasar nasional maupun global. Keduanya menjadi produk unggulan sebagai bagian dari mendorong usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Kutim.
Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kutim, Ny. Hj. Siti Robiah, menyatakan hal tersebut kala menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Dekranas 2025. Siti Robiah, yang juga istri Bupati Kutim Ardiansyah, menyatakan Dekranasda rutin membina UMKM supaya mampu mengembangkan usahanya.
“Ya, benar. Di Kabupaten Kutai Timur, saya sudah masuk periode kedua sebagai Ketua Dekranasda. Kami rutin melakukan pendataan UMKM yang ada, sekaligus memberikan pembinaan terkait produk, packaging (kemasan, red), hingga administrasi. Bahkan untuk penjualan online (daring, red) pun kami berikan pelatihan,” ujar Siti Robiah.
Salah satu dukungan pengembangan dilakukan Dekranasda dengan inovasi tenun ATBM (alat tenun bukan mesin) dengan motif khas Kutim.
“Kami kembangkan tenun ini, sekaligus turun langsung membina para pengrajin. Kalau ada kendala bahan, kami bantu komunikasi dan memberikan dukungan,” tuturnya.
Selain tenun, batik khas Kutim juga didukung untuk berkembang dan berdaya saing. Sejak tahun 2012, saat Siti masih menjabat wakil ketua Tim Penggerak PKK, dukungan terhadap batik mulai diperkuat. Ketika digelar lomba desain batik oleh pemerintah daerah, lahir batik khas Kutim yang saat ini menjadi seragam wajib aparatur pemerintah daerah setiap hari Jumat.
“Sejak itu, pelatihan membatik terus kami lakukan. Alhamdulillah, sekarang batik Kutim sudah maju dan banyak diminati. Bahkan Dekranasda Kutim sudah ikut ajang Indonesia Fashion Week beberapa waktu lalu,” ungkapnya.
Konsistensi pembinaan terbukti membuat inovasi tidak hanya tumbuh, tetapi juga mendapat apresiasi. Selain itu, dukungan pengembangan batik dan tenun akan meningkatkan ekonomi daerah. (ADV/ProkopimKutim/DN)


