SANGATTA – Selembar arsip adalah kepingan puzzle yang akan tersusun menjadi narasi apabila terhubung dengan ingatan atau kepingan puzzle lainnya. Hebatnya lagi, narasi yang tersusun dari arsip-arsip itu akan terus tumbuh seiring arsip yang terus bertambah. Dalam konteks pemerintahan, narasi yang tersusun merupakan ingatan kolektif sebuah daerah.
Arsip dalam konteks pemerintahan berarti informasi tentang bagaimana sebuah daerah dicita-citakan dan dibangun. Dari sana memungkinkan untuk mempelajari ingatan kolektif sebagai bekal melangkah ke depan membangun daerah.
Nilai penting arsip ini menjadi semangat Pemkab Kutai Timur (Kutim) ketika menyelenggarakan Sosialisasi Kearsipan dan Pemberian Penghargaan Kinerja Kearsipan Perangkat Daerah serta Penggunaan Aplikasi SRIKANDI, belum lama ini. Kegiatan yang digagas Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kutim ini menghadirkan Direktur Kearsipan Daerah I Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Irwanto Eko Saputro, sebagai narasumber utama.
Dalam paparannya, Irwanto menjelaskan bahwa arsip bukan sekadar urusan dokumen, melainkan bagian dari penyelenggaraan sistem pemerintahan yang transparan, akuntabel, dan berkeadaban. Karena itu keseriusan dalam menangani arsip juga sama pentingnya dalam upaya membangun kepercayaan terhadap pemerintahan.
“Kearsipan sering dianggap pekerjaan belakang layar. Padahal, justru dari sanalah kejelasan, keterbukaan, dan tanggung jawab publik berawal. Dengan Aplikasi SRIKANDI, semua proses arsip bisa lebih mudah, aman, dan terintegrasi,” ujar Irwanto.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Dispusip Kutim Ayub tidak menampik kenyataan bahwa bidang kearsipan kerap kali tidak mendapatkan perhatian sebesar sektor lain. Meski begitu, ia menegaskan bahwa justru di sanalah letak tanggung jawab besar bagi keberlanjutan pemerintahan.
“Kearsipan kadang dianaktirikan, padahal ia menyimpan napas panjang sejarah. Bila arsip tertata, maka wajah pemerintahan pun akan lebih jernih terlihat. Arsip bukan hanya dokumen, tapi juga identitas dan ingatan kita bersama,” tutur Ayub penuh makna.
Kegiatan sosialisasi yang digelar ini diikuti oleh sekitar 150 peserta yang terdiri dari perangkat daerah, organisasi masyarakat, hingga sektor swasta. Sosialisasi ini menjadi momentum kebangkitan kesadaran baru dalam tata kelola arsip di Kutim. (ADV/ProkopimKutim/DN)


