Dutanarasi, Kutai Timur – Optimalisasi lahan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy terus menjadi fokus utama Pemerintah Kabupaten Kutai Timur. Dari total luas lahan yang tersedia, pemanfataannya saat ini masih tergolong minim, namun potensi pengembangannya sangat luas.
Kepala DPMPTSP Kutim, Darsafani, mengungkapkan bahwa salah satu strategi untuk mempercepat pertumbuhan kawasan adalah dengan mengintegrasikan potensi petani mandiri ke dalam rantai pasok industri di Maloy.
Saat ini, luas lahan yang telah terpakai oleh PT Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK) dan beberapa tenant lainnya masih sebagian kecil dari total luasan yang dicadangkan.
Darsafani menjelaskan bahwa pembebasan lahan tambahan akan dilakukan seiring dengan bertambahnya jumlah investor yang masuk. Ia menargetkan setidaknya ada lima hingga enam investor besar yang beroperasi sebelum dilakukan perluasan lahan secara besar-besaran agar penggunaan lahan menjadi lebih efisien.
”Lahan yang terpakai baru sedikit dibandingkan luasan total. Pertimbangannya adalah menunggu investor masuk dulu. Kalau sudah ada lima atau enam investor, mungkin kita bisa bebaskan lagi sisanya agar lebih produktif,” kata Darsafani.
Salah satu kendala yang sering dihadapi investor di KEK Maloy adalah keraguan akan konsistensi pasokan bahan baku. Untuk menjawab tantangan tersebut, Darsafani telah berkoordinasi dengan ketua kelompok petani mandiri di Kutai Timur.
Potensi lahan dan hasil panen dari petani swadaya ini dianggap sebagai “raksasa tidur” yang bisa menjadi solusi utama bagi kebutuhan pabrik-pabrik pengolahan di kawasan Maloy nantinya.
DPMPTSP berupaya agar petani mandiri tidak hanya menjadi penonton dalam hiruk-pikuk industri di daerahnya. Dengan menghubungkan langsung petani dengan pihak pabrik (seperti PT Daya Puspita), diharapkan rantai distribusi yang selama ini panjang dan merugikan petani bisa dipangkas.
Skema ini tidak hanya menguntungkan industri dari sisi kepastian stok, tetapi juga secara langsung meningkatkan kesejahteraan dan harga jual di tingkat petani.
”Saya sudah panggil ketua kelompok petani mandiri. Saya tanya, bisa tidak kamu mencukupi keinginan perusahaan? Ternyata potensi mereka sangat besar, bahkan lebih besar dari beberapa perusahaan tertentu jika dikelola dengan baik,” tuturnya membagikan hasil pertemuan.
Integrasi ini juga membutuhkan dukungan dari Dinas Koperasi dan Dinas Perkebunan untuk memastikan kualitas TBS (Tandan Buah Segar) petani memenuhi standar industri. Darsafani berharap ke depannya ada kemitraan formal yang saling menguntungkan (win-win solution).
Petani mendapatkan kepastian harga dan pembeli, sementara pihak industri di KEK Maloy mendapatkan jaminan pasokan bahan baku tanpa harus bergantung sepenuhnya pada perusahaan perkebunan besar.
Seiring dengan perbaikan infrastruktur jalan menuju Maloy, akses bagi petani untuk mengirimkan hasil buminya akan semakin mudah. Pemerintah daerah berkomitmen untuk terus mengawal proses ini hingga benar-benar terwujud sebuah ekosistem industri yang inklusif.
Darsafani percaya bahwa kunci kesuksesan KEK Maloy terletak pada kolaborasi antara pemerintah, investor besar, dan kemandirian para petani lokal di Kutai Timur.
”Petani mandiri di Kutim ini jumlahnya besar sekali. Kalau mereka bisa kita arahkan untuk menyuplai ke Maloy, maka masalah bahan baku yang selama ini dikhawatirkan investor akan segera teratasi,” pungkasnya. (Adv)


