Dutanarasi, Kutai Timur – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy kembali menunjukkan daya tariknya bagi investor sektor energi terbarukan. PT Daya Puspita Sinergi secara resmi telah menyatakan ketertarikannya untuk membangun pabrik pengolahan kelapa sawit menjadi biodiesel di kawasan strategis tersebut.
Rencana investasi ini telah memasuki tahap penyusunan dokumen studi kelayakan dan koordinasi intensif dengan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur.
Kepala DPMPTSP Kutim, Darsafani, menyambut baik ketertarikan investor tersebut namun ia juga memberikan catatan penting terkait ketersediaan bahan baku. Menurutnya, PT Daya Puspita Sinergi memerlukan kepastian suplai Crude Palm Oil (CPO) agar operasional pabrik nantinya dapat berjalan berkelanjutan.
Saat ini, pemerintah daerah sedang memfasilitasi pertemuan antara pihak investor dengan beberapa perusahaan perkebunan besar yang beroperasi di sekitar wilayah Maloy.
”Perusahaan PT Daya Puspita Sinergi ini mau membangun pabrik minyak, mereka sudah melakukan MoU dan saat ini sedang menyusun dokumen studi kelayakan. Kami sudah pertemukan mereka dengan beberapa perusahaan penyuplai bahan baku,” ungkap Darsafani.
Darsafani memaparkan bahwa kapasitas produksi yang direncanakan mencapai 1.500 meter kubik per hari. Target utamanya adalah mengolah minyak sawit yang sudah jadi menjadi biodiesel, bukan sekadar pabrik minyak goreng biasa.
Namun, tantangan muncul ketika beberapa perusahaan perkebunan besar sudah memiliki kontrak eksklusif dengan pihak lain atau lebih memilih mengirim produknya ke luar pulau Jawa demi efisiensi biaya tertentu yang telah mereka jalani selama bertahun-tahun.
Untuk mengatasi hal tersebut, Darsafani mengusulkan adanya negosiasi harga yang saling menguntungkan. Pemerintah daerah berusaha meyakinkan para penyuplai bahwa menjual bahan baku ke KEK Maloy akan jauh lebih menguntungkan dalam jangka panjang karena efisiensi biaya logistik.
Jarak yang lebih dekat antara perkebunan dan pabrik pengolahan di Maloy seharusnya menjadi nilai tambah yang bisa menekan biaya operasional bagi kedua belah pihak.
”Kami sedang memfasilitasi negosiasi ini. Walaupun harga dinaikkan sedikit, itu tetap lebih murah bagi perusahaan perkebunan daripada mereka mengirim ke luar daerah dengan biaya kos yang lebih besar. Di Maloy lebih dekat dan nyaman,” jelasnya lagi.
Selain perusahaan besar, potensi suplai dari petani mandiri juga menjadi opsi yang sangat menjanjikan. Populasi petani mandiri di Kutai Timur tergolong besar dan mereka membutuhkan kepastian pasar untuk hasil panen mereka.
Jika PT Daya Puspita Sinergi juga bisa menyerap hasil dari petani mandiri, maka dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat akan jauh lebih luas dan merata di seluruh pelosok kabupaten.
Kehadiran industri biodiesel di Maloy diharapkan menjadi pemantik bagi masuknya investasi turunan lainnya di masa depan.
Pemerintah Kabupaten Kutai Timur berkomitmen untuk terus mempermudah proses perizinan melalui DPMPTSP selama para investor menunjukkan keseriusan dalam pengembangan kawasan.
Transformasi ekonomi dari sekadar menjual bahan mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi seperti biodiesel kini bukan lagi sekadar impian bagi Kutai Timur.
”Statusnya sudah PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri). Jika perhitungan pasokan bahan baku ini mencukupi dan menguntungkan, mereka akan segera membangun. Kami ingin Maloy benar-benar menjadi pusat industri yang hidup,” tutupnya. (Adv)


