Dutanarasi, Kutai Timur – Pengaktifan kembali lampu lalu lintas di persimpangan Kade Etam, Sangatta, memicu reaksi beragam dari masyarakat. Pasca dilakukan perbaikan dan mulai difungsikan kembali oleh kementerian, muncul laporan mengenai terjadinya kemacetan panjang, terutama pada jam-jam sibuk.
Arus kendaraan dari arah Jalan Yos Sudarso dilaporkan sering mengular hingga mendekati kawasan Meloy, yang mulai dikeluhkan oleh para pengguna jalan yang merasa waktu tempuhnya menjadi lebih lama.
Kabid Lalu Lintas dan Angkutan Darat Dishub Kutim, Abdul Muis, menyatakan bahwa pemasangan dan pengoperasian lampu merah tersebut sebenarnya merupakan proyek dari Kementerian Perhubungan melalui sistem Area Traffic Control System (ATCS).
Pengaktifan ini juga merupakan respons atas permintaan banyak pihak yang sebelumnya mempertanyakan mengapa lampu tersebut dibiarkan mati dalam waktu lama. Namun, efek samping berupa antrean kendaraan kini menjadi fokus evaluasi baru bagi tim di lapangan.
”Pemasangan traffic light itu dari kementerian sesuai permintaan kita, karena selama ini banyak teman-teman bertanya kenapa tidak difungsikan. Sekarang sudah hidup, tapi memang ada laporan bikin macet panjang kalau jam-jam kritis,” ungkap Abdul Muis.
Berdasarkan pantauan awal, kemacetan di kawasan tersebut diduga terjadi karena volume kendaraan yang meningkat serta pola perilaku pengendara di persimpangan. Ada pula dugaan bahwa antrean panjang ini diperparah oleh tumpukan kendaraan yang hendak menuju SPBU atau karena faktor penyempitan jalan di titik tertentu.
Dishub Kutim berencana melakukan observasi mendalam untuk melihat apakah durasi lampu hijau dan merah sudah proporsional dengan beban kendaraan yang ada saat ini.
Salah satu poin yang disoroti adalah antrean dari arah Yos Sudarso yang mencapai Gang Masjid pada sore hari. Kondisi ini dinilai cukup kontras dibandingkan dengan situasi pada pagi hari yang cenderung lebih lancar.
Muis mencatat adanya kemungkinan pengaruh dari aturan “belok kiri mengikuti lampu” yang saat ini diterapkan, di mana kendaraan yang hendak belok kiri tetap harus berhenti jika lampu merah menyala, sehingga menghambat laju kendaraan di belakangnya.
”Macetnya parah sampai ke dekat Meloy antreannya kalau sore, padahal kalau pagi tidak terlalu. Nanti kita lihat apakah karena pengaruh yang mau belok kiri ke arah Kade Etam itu atau ada faktor lain,” kata Muis menanggapi laporan warga.
Sebagai langkah solutif, Dishub Kutim akan menerjunkan tim teknis untuk melakukan kajian selama satu minggu ke depan. Salah satu opsi rekayasa yang dipertimbangkan adalah memperbolehkan kendaraan belok kiri langsung tanpa mengikuti lampu jika terbukti dapat mengurai antrean secara signifikan.
Namun, kebijakan ini harus tetap mempertimbangkan faktor keamanan bagi pejalan kaki dan pengendara dari arah lain agar tidak menimbulkan potensi kecelakaan baru di persimpangan tersebut.
Evaluasi ini diharapkan dapat menemukan titik keseimbangan antara ketertiban lalu lintas dan kelancaran arus kendaraan. Muis menegaskan bahwa infrastruktur yang dibangun seharusnya memudahkan masyarakat, bukan malah menambah beban perjalanan.
Jika hasil kajian menunjukkan bahwa sistem “belok kiri langsung” lebih efektif, maka Dishub akan segera melakukan penyesuaian rambu dan marka di lokasi tersebut untuk memberikan kepastian hukum bagi para pengendara.
”Kita uji dulu, kalau satu minggu masih macet berarti ada persoalan baru. Tapi kalau nanti bisa belok kiri langsung dan ternyata lancar, ya sudah itu saja solusinya, akan kita cabut aturan yang sekarang,” tegasnya. (Adv)


