Dutanarasi, Kutai Timur – Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Kutai Timur tengah mematangkan rencana besar untuk merombak sistem transportasi umum di wilayahnya. Langkah ini diambil guna memberikan kemudahan bagi masyarakat sekaligus meningkatkan efisiensi pengelolaan transportasi daerah.
Melalui inovasi ini, diharapkan warga Kutim dapat beralih ke moda transportasi publik yang lebih modern dan tertata.
Kepala Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Darat Dishub Kutim, Abdul Muis, mengungkapkan bahwa pihaknya sedang mengadopsi konsep By The Service (BTS).
Konsep ini merupakan program dari Kementerian Perhubungan yang menitikberatkan pada standar pelayanan maksimal kepada pengguna jasa transportasi. Saat ini, draf rencana tersebut sedang disusun untuk segera dipresentasikan kepada Bupati dan Kepala Dinas.
”Jadi mereka nanti di saat ada masyarakat naik, langsung pakai barcode itu. Langsung berapa ini, seperti kita di angkutan TransJakarta kan. Jadi mereka nanti itu masuk ke rekening kas daerah,” ujar Abdul Muis menjelaskan mekanisme pembayaran digital tersebut.
Penerapan sistem pembayaran digital melalui barcode atau kartu elektronik ini bertujuan untuk meminimalisir kebocoran anggaran. Dengan sistem ini, operator tidak lagi bersentuhan langsung dengan uang tunai hasil tarif penumpang. Pemerintah dapat memantau data penumpang secara real-time melalui dasbor pengawasan yang telah disediakan.
Selain aspek transparansi, program BTS ini juga ditujukan untuk menjamin keselamatan penumpang, terutama bagi para pelajar. Pemerintah menyadari bahwa tingginya angka kecelakaan seringkali melibatkan anak sekolah yang menggunakan kendaraan pribadi. Dengan adanya transportasi umum yang layak dan aman, orang tua diharapkan tidak lagi merasa khawatir saat melepas anak-anak mereka berangkat sekolah.
”Pemerintah hadir di sini bukan untuk mencari untung, tapi bagaimana supaya meningkatkan keselamatan. Program kementerian itu adalah bagaimana supaya anak sekolah itu naik angkutan umum,” tegas Muis mengenai prioritas keselamatan dalam layanan ini.
Untuk mendukung keberhasilan program, Dishub Kutim juga akan menata rute-rute strategis hingga menjangkau tingkat kecamatan. Peningkatan kualitas armada menjadi poin krusial, mulai dari kebersihan tempat duduk hingga fasilitas pendukung lainnya. Muis meyakini bahwa masyarakat tidak akan keberatan membayar selama layanan yang diberikan setara dengan kenyamanan yang mereka dapatkan.
Waktu tempuh dan ketepatan jadwal juga akan menjadi standar utama dalam pelayanan BTS ini di masa depan. Dishub berkomitmen untuk terus melakukan kajian mendalam agar integrasi antarwilayah di Kutai Timur dapat berjalan mulus tanpa kendala teknis. Jika berhasil, sistem ini akan menjadi tonggak sejarah baru bagi digitalisasi layanan publik di sektor perhubungan darat.
”Masyarakat itu tidak melihat dari mahal atau murahnya, tapi yang pertama adalah pelayanannya itu, kepuasan itulah yang harus kita konsep bagaimana supaya merangsang masyarakat memakai angkutan umum,” tutupnya. (Adv)


