Rembuk Budaya: Suara Pelajar Kutim Menjaga Warisan Kutai dan Dayak

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Advertorial


SANGATTA - Derasnya arus digitalisasi dan budaya global mendorong sekelompok pelajar dari SMA Prima YPPSB untuk menggagas wadah dialog yang diberi nama Rembuk Budaya. Wadah yang dimotori oleh OSIS di sekolah tersebut melibatkan partisipasi ratusan siswa SMP dan SMA di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Rembuk Budaya ini menjadi wadah dialog dan praktik kebudayaan anak muda.

Kegiatan Rembuk Budaya digelar di Rumah Jabatan Bupati Kutim yang terletak di Bukit Pelangi. Lebih dari sekadar seremoni atau perayaan simbolik, terdapat upaya kolektif membangun kesadaran pelajar terhadap warisan budaya lokal Kutai dan Dayak yang semakin terdesak oleh budaya populer dan minimnya regenerasi pelestari. Rembuk Budaya dibagi menjadi dua sesi utama.

Sesi pertama bertema Aksara dan Bahasa Kutai, di mana perhatian diarahkan pada pentingnya pelestarian bahasa daerah sebagai jantung kebudayaan. Encek Abdul Gaffar, tokoh adat Kutai, bersama Nisma Mawardah, guru sekaligus penulis yang aktif mendokumentasikan bahasa lokal, dihadirkan untuk memantik diskusi dan praktik kreatif. Selain itu, para siswa diajak menafsirkan lagu berbahasa Kutai, menulis puisi dan cerpen bermuatan lokal, hingga membuat video pendek bertema kehidupan masyarakat Kutai.

Media poster juga menjadi bagian yang diajarkan sebagai kampanye pelestarian bahasa. Poster digambar dengan tangan, penuh warna dan makna, seakan menjadi penegas bahwa budaya bukan benda mati, melainkan denyut hidup yang bisa dipelajari, diolah, dan diwariskan. Sesi kedua bertema Kearifan Lokal Budaya Dayak, yang menghadirkan Indra Bengeh, Kepala Adat Besar Dayak Kalimantan TimurKalimantan Utara.

Di sini, para peserta dibawa menyelami nilai-nilai hidup masyarakat Dayak yang menekankan keseimbangan antara manusia, alam, dan roh leluhur. Melalui praktik simbolis seperti simulasi upacara pernikahan adat dan ritual tolak bala, para siswa tidak hanya menyaksikan, tetapi juga turut mengalami ritual dengan alat-alat sederhana. Kegiatan ini membuka mata pelajar akan kedalaman filosofi Dayak, dari gotong royong hingga penghormatan terhadap leluhur sebagai bagian dari sistem nilai yang lestari.

(ADV/ProkopimKutim/DN)

Iklan dutanarasi.com

Tags:

Advertorial