Muara Bengkal – Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa jumlah penderita TBC di Indonesia menduduki peringkat kedua tertinggi di dunia setelah India. Deteksi dini dan penanganan yang baik harus dilakukan di seluruh wilayah Indonesia, termasuk Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Deteksi dini TBC (tuberkulosis) dijalankan melalui program Active Case Finding (ACF) dengan layanan radiografi toraks mobile.
“Teknologi ini penting. Dengan toraks digital, kita bisa tahu lebih awal siapa yang terinfeksi, bahkan sebelum gejalanya muncul parah. Ini menyelamatkan banyak nyawa,” ujar dr. Ivan Hariyadi, Kepala Seksi P2PM Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim. Kegiatan pemantauan beberapa waktu lalu dilakukan di halaman Puskesmas Pembantu Desa Benua Baru, Kecamatan Muara Bengkal.
Kegiatan tersebut tidak hanya dihadiri oleh para tenaga medis, tetapi juga oleh Ketua DPPM Kutim sekaligus Ketua TP PKK, Ny. Hj. Siti Robiah, yang turut turun ke lapangan. Dalam kesempatan itu, ia mengajak para Ketua TP PKK kecamatan hingga kader desa untuk turut menyosialisasikan pentingnya pemeriksaan ini.
Program ini tidak bisa berjalan sendirian. Diperlukan sinergi lintas sektoral, mulai dari sektor kesehatan, pendidikan, hingga tokoh adat. Pendekatan yang dijalankan menunjukkan bahwa Kutim berupaya menjawab tantangan yang dihadapi.
“Kami juga ingin melibatkan sekolah. Anak-anak harus belajar sejak dini tentang pola hidup sehat, cara batuk yang benar, dan pentingnya udara bersih,” imbuh Siti Robiah.
Program yang digagas Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ini bukan sekadar simbol kehadiran Pemkab di desa-desa. Keterbatasan akses fasilitas kesehatan dan alat canggih yang biasanya hanya ada di rumah sakit besar tidak menghalangi berjalannya program dalam menyambangi warga secara langsung. Tujuannya jelas: menemukan penderita TBC sedini mungkin, memutus mata rantai penularan, dan menjawab target besar yaitu Indonesia bebas TBC pada 2030. (ADV/ProkopimKutim/DN)


