SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak dalam membangun daerah untuk kesejahteraan masyarakat, salah satunya dengan mengadakan lokakarya Effective Collaborative Action (ECA). Kegiatan ini bertujuan menganalisis peluang dan tantangan terkini serta menjembatani regulasi dengan implementasi di lapangan terkait produksi komoditas dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Lokakarya tersebut merupakan inisiatif dari Sustainable Landscape Program Indonesia (SLPI), sebuah program kolaboratif antara Pemerintah Indonesia dan Swiss yang didukung oleh State Secretariat for Economic Affairs (SECO). Pelaksana program SLPI, UNDP Indonesia, memfasilitasi sesi ini bersama SUSTAIN Kutim, sebuah konsorsium yang terdiri atas GIZ Indonesia dan ASEAN, Proforest, serta Tanah Air Lestari.
Acara ini berlangsung di Pelangi Room Hotel Royal Victoria dan dihadiri oleh Wakil Bupati Kutim Mahyunadi. Turut hadir Ketua Harian Forum Multipihak Pembangunan Berkelanjutan Kutim (Formika) Abdul Kadir; dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, Syauqi Ahmada; perwakilan SLPI, UNDP Indonesia, Paramita Mentari Kesuma; serta Project SLI Project Associate Risnauli Gultom, beserta tamu undangan lainnya.
Ketua Formika, Abdul Kadir, ketika membuka acara menyatakan bahwa lokakarya ini bertujuan untuk mengingatkan kembali target besar Kutim dan komitmen berkelanjutan Kutim dalam menganalisis sejauh mana kolaborasi telah berjalan. Abdul Kadir yakin bahwa Kutim bisa menjadi teladan kolaborasi dan kerja bersama.
Sementara itu, Wakil Bupati Mahyunadi menegaskan keyakinannya bahwa forum ini akan menjadi contoh nyata sinkronisasi kerja sama multipihak.
“Kami yakin lokakarya ini bisa menjadi model sinkronisasi kolaborasi yang memperkuat kapasitas masyarakat, khususnya petani sawit swadaya, serta memastikan keberlanjutan pertanian sambil mendukung transformasi hijau Kabupaten Kutim, terutama melalui Rencana Aksi Daerah Kelapa Sawit Berkelanjutan,” ujarnya.
Syauqi Ahmada dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian melihat bahwa Kutim berhasil membangun forum yang menyatukan beragam pemangku kepentingan untuk bersama-sama meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan, terutama sawit, dan menjalankan praktik lanskap berkelanjutan. Menurutnya, kolaborasi yang memajukan praktik lanskap berkelanjutan seperti ini bisa diterapkan di daerah lain. (ADV/ProkopimKutim/DN)


