SANGATTA — Sampah masih menjadi masalah di berbagai daerah di Indonesia. Beberapa waktu lalu, terdengar berita mengenai terbakarnya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di sejumlah wilayah akibat timbunan sampah yang menghasilkan gas metana dan kemudian terbakar. Tingginya kadar gas metana membuat kebakaran sulit dipadamkan, sehingga menimbulkan pencemaran udara yang parah di sekitarnya.
Di tengah persoalan sampah yang melanda banyak daerah, Kabupaten Kutai Timur akan memiliki program pengelolaan sampah bertajuk “Transformasi Sampah Menjadi Berkah: Menuju Kutai Timur Zero Waste to Landfill.” Pendekatan tersebut berarti mengeliminasi sampah yang berakhir di TPA dan menggantinya dengan sistem pengolahan terpadu yang produktif. Langkah ini tidak hanya mengurangi secara drastis timbunan sampah di TPA, tetapi juga membuka peluang ekonomi.
Untuk mencapai zero waste, ada tiga pilar utama yang diperkuat, yaitu pengolahan sampah organik menjadi biogas dan kompos, daur ulang sampah anorganik menjadi produk bernilai tinggi, serta pelibatan masyarakat secara aktif. Selain itu, perlu dibangun pula Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), yang nantinya menjadi lokasi pengolahan sampah secara aman dan berkelanjutan.
Program pengolahan sampah tersebut dipaparkan oleh PT Guataka dan PT Mutigo kepada Bupati Kutai Timur di ruang kerjanya. Kedua perusahaan menyoroti tiga pilar utama, yakni pengolahan sampah organik menjadi biogas dan kompos, daur ulang anorganik menjadi produk bernilai ekonomi, serta peningkatan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah. Pendekatan ini diharapkan tidak hanya membuat lingkungan lebih bersih, tetapi juga membuka peluang menjadikan sampah sebagai sumber ekonomi baru.
Bupati Ardiansyah Sulaiman menilai pendekatan Zero Waste sebagai langkah ideal yang sejalan dengan visi “Kutai Timur Hebat.” Menurutnya, program ini tidak hanya menjadi solusi lingkungan, tetapi juga diharapkan dapat membuka lapangan kerja baru, mendorong ekonomi sirkular, dan menjadikan Kutai Timur sebagai pionir daerah bebas sampah di Kalimantan Timur.
“Ini cukup menarik karena memperkenalkan mekanisme pengelolaan sampah mendekati nol. Tantangannya di Kutim adalah bagaimana mengelola sampah agar tidak menumpuk di TPA,” ujar Ardiansyah. (ADV/ProkopimKutim/DN)


