KAUBUN – Wakil Bupati Kutai Timur, Mahyunadi, meninjau saluran irigasi yang dibangun untuk mengalirkan air ke ratusan hektare sawah dan kebun milik warga Desa Bumi Rapak, Kecamatan Kaubun. Dengan pakaian dinas yang basah oleh keringat dan sepatu yang penuh lumpur, Wabup menemukan tumpukan sedimen yang menghambat aliran air, yaitu simbol krisis yang membelit petani Kaubun.
“Masalah seperti ini tidak boleh terjadi setiap tahun,” tegas Mahyunadi kepada warga dan perangkat desa yang turut mendampinginya.
Ia menyampaikan sebuah solusi untuk mengatasi sedimen yang menghambat aliran air, yakni Pemkab Kutim akan mengalokasikan satu unit ekskavator mini ke desa. Alat berat itu akan difungsikan untuk pengerukan berkala saluran irigasi, dikelola langsung di tingkat desa, dan diawasi oleh pemerintah desa serta kecamatan.
“Sumber daya ini harus dikelola bersama. Pemerintah desa, camat, dan warga harus terlibat aktif. Jangan tunggu parah dulu baru bertindak,” tegasnya.
Peninjauan langsung yang dilakukan Wabup itu merupakan spontanitas karena mendengar keluhan petani yang disampaikan dalam forum diskusi peningkatan infrastruktur desa. Menurut mereka, saluran sering tersumbat sehingga mengganggu aliran air ke sawah, mengakibatkan produktivitas terganggu dan pendapatan menurun.
Solusi pengadaan ekskavator untuk mengatasi sedimen irigasi terasa bijak. Dengan alat berat yang siaga di lokasi, perawatan irigasi bisa dilakukan secara berkala dan cepat tanpa harus menunggu bantuan dari luar wilayah. Masyarakat dapat langsung berinisiatif membersihkan saluran irigasi di wilayah mereka.
Persoalan saluran irigasi yang terselesaikan membuat petani Bumi Rapak dan Kaubun dapat kembali mengejar target panen tiga kali dalam setahun. Apabila target tercapai, maka ketahanan pangan di wilayah tersebut akan semakin kuat. (ADV/ProkopimKutim/DN)


